Saya tertahan di Denpasar selama semalam karena tidak ada pesawat yang terbang ke Larantuka hari ini. Keesokan harinya pun sama, tidak ada penerbangan ke “Vatikan-nya Indonesia” ini. Jadi hari ini kami mendarat di Bandara Internasional Fransiscus Xaverius Seda di Maumere, Nusa Tenggara Timur dengan pesawat kecil berbaling-baling ganda. Dari Maumere kami menempuh perjalanan darat sejauh kurang lebih 120 km ke Larantuka di Flores Timur.

Untung saja Gunung Egon, Ilimuda, Lewetobi, Lereboleng, dan Riang Kotang yang kami temui di perjalanan bisa menghibur sejenak. Juga hampir separuh perjalanan dari Maumera ke Larantuka ini kami tempuh di jalanan aspal yang tidak jauh dari laut. Jadi kami tidak bosan. Dan ketika kami kemudian melihat Ile Mandiri (Ile dalam bahasa setempat adalah gunung) di kejauhan, kami tau, sebentar lagi kami akan sampai di Larantuka. Kota Larantuka adalah pemukiman yang membentang di sepanjang garis pantai di sisi selatan lereng Ile Mandiri.

Sesampainya di Larantuka kami segera masuk penginapan kami di ASA Hotel & Resto yang berada di pinggir pantai untuk beristirahat. Larantuka terkenal sebagai salah satu kota tujuan wisata agama, terutama buat para penganut agama Katolik. Prosesi “Semana Santa” pada saat Tri Hari Suci menjelang Hari Raya Paskah adalah magnet yang menarik wisatawan dari seluruh dunia. Jadi tidak heran kalau Larantuka sering disebut Vatican Of Indonesia, dan di meja tiap kamar hotel kami tersedia Injil.

Menjelang sore kami mendapat telpon untuk makan malam dirumah Josep Lagadoni Herlin. Josep adalah mantan jurnalist dan pada saat kami datang ke Larantuka kebetulan menjabat sebagai Bupati Flores Timur di Larantuka. Jadi setelah matahari hilang kami segera menuju rumah dinasnya. Sebenarnya saya tidak tertarik untuk makan malam, tapi tertarik dengan kuliner khas Larantuka yang biasanya tersedia di rumah pejabat.

Rumah dinas Josep merupakan rumah unik dengan arsitektur percampuran Portugis. Kami masuk dan segera digiring ke halaman belakang. Disana sudah ada beberapa tamu, dan di meja makan penuh dengan beberapa makanan yang kebanyakan belum pernah saya lihat. Saya belum berani mengambil menu utama, sambil menunggu Josep saya mengambil cemilan berupa ubi, singkong, pisang, dan kacang rebus. Tidak berapa lama kemudian Josep datang, menyalami kami dan tamu-tamu lain dan mempersilahkan kami makan. Kemudian datang perempuan dewasa yang menawari dan memandu kami ke meja makan. Saya agak cerewet menanyakan beberapa menu, apa bahan dan bumbunya dan bagaimana memasaknya. Saya memilih pengganti nasi berupa makanan semacam lepet kalau di jawa dan jagung, dengan lauk berupa sup ikan dan sayuran yang terdiri dari daun dan bunga pepaya yang berasa pahit, pedas dan asam menyegarkan. Jagung yang saya makan rupanya jagung ketan.

Perempuan dewasa dengan baju etnik Flores ini dengan sabar dan ramah menjawab semua pertanyaan saya. Selesai dengan menu pertama, perempuan tadi datang lagi menawari menu lain dan saya menunjuk beberapa hidangan yang kemudian diantar oleh perempuan tadi. Selesai makan kemudian saya meminta beberapa hidangan penutup lagi kepada pelayan tadi. Setelah kenyang dan berpamitan pulang kepada Josep, saya baru tau, perempuan yang saya repotin dan melayani kami makan tersebut ternyata Ibu Bupati Flores Timur.

Pagi harinya kami bertemu Josep di Pelabuhan di Larantuka untuk menyeberang ke Pulau Solor. Kebetulan Josep akan ada kunjungan dinas ke sana. Kami akan menumpang perahunya ke Pulau Solor, dan akan mengunjungi Desa Adar Karawatong. Selama perjalanan di laut Josep dan bebeapa koleganya menghibur kami dengan beberapa nyanyian. Perahu yang sering dipakai warga untuk menyeberang antar pulau ini rupanya mempunyai fasilitas karaoke.

Sesampainya di Pulau Solor Josep kemudian bekerja dalam kunjungannya dan kami melanjutkan perjalanan ke Desa Adat Karawatong. Kami melewati beberapa pantai dan kampung di Pulau Solor, baru kemudian meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki sampai ke sebuah komplek perkampungan adat. Rumah-rumah di Karawatong ini mengingatkan saya akan komplek perumahan adat di Badui di Banten atau Kampung Naga di Jawa Barat. Kami bertemu dengan beberapa tokoh masyarakat adat disini dan berdiskusi. Namun ternyata saat ini sedang musim tanam, jadi kami tidak bisa mendengarkan musik dan tarian adat di Karawatong, kecuali kami mau membayar denda adat. Musik dan tarian bisa diadakan di desa adat ini setelah masa panen bukan pada saat masa tanam. Kami bukannya tidak mempunyai uang untuk membayar denda adat, tapi kami tidak mau melanggar adat setempat. Peraturan adat harus dihormati.

Selesai dari Karawatong kami kemudian berkeliling di sekitar Pulau Solor. Banyak sekali pantai indah disini. Kemudian kami mendatangi sebuah balai desa, kebetulan sedang ada pertemuan warga yang dihadiri oleh Josep sebagai Bupati. Jadi kami kesana, dan mendapat beberapa makanan khas Pulau Solor yang belum pernah kami temui. Salah satu makanan yang terbuat dari ubi parut, dan berbentuk bola, dihidangkan hanya untuk pejabat, kepala suku atau tokoh masyarakat saja. Tapi disini kami berhasil mencicipi makanan yang belum tentu setahun sekali dibuat ini.

Dari balai desa kemudian rombongan Josep diundang untuk makan siang di rumah warga, kami tentu saja mengikuti. Di rumah warga ini kami makan dengan lauk sederhana tetapi eksotis. Ayam goreng biasa buat kami. Tapi ada jagung titi, jagung yang disangrai dan digeprek pakai batu, kemudian ada ikan asin pepe, dan sambal ubu rampe. Yang dimaksud sambal disini adaah potongan bawang merah, potongan jeruk nipis, cabai dan beberapa daun-daunan. Rasanya asam pedas menyegarkan. Dan sambil kami makan, ada satu orang berkelilig membawa teko dan gelas, menuang minuman sedikit ke semua orang yang makan bergiliran. Bukan air putih, tetapi tuak.

Sore hari sebelum kapal jemputan kami tiba, kami beristirahat di sebuah pantai. Josep membacakan puisi untuk kami, dan di laut, di selat antara Pulau Solor dan Larantuka, beberapa ekor ikan lumba-lumba lewat. Jika ke selatan sedikit, kadang paus sperma yang lewat.

Keesokan harinya di Larantuka, pagi hari kami ke Lamawalang, sebelah barat Larantuka untuk menjemput Elsy, salah satu keponakan Bupati Flores Timur. Elsy akan menunjukkan beberapa makanan khas Flores, Beberapa budaya dan spot wisata lain di sekitar Larantuka. Di Lamawlang ternyata ada sebuah rumah yang berbentuk rumah adat Flores Timur dan masih ada beberapa orang yang mempertahanan budaya, juga mempelajari tari-tarian dan musiknya. Dan karena ini bukan kampung adat, maka kami boleh menggelar tarian dan musik disini. Jadi siang ini Elsy bergabung dengan masyarakat untuk meghibur kami dengan pakaian adat lengkap.

Musiknya sangat sederhana, mula-mula gendang ditabuh, kemudian beberapa penari laki-laki keluar dengan banyak giring-giring di kakinya yang menambah instrumen musik menjadi kaya. Beberapa menenteng pedang. Rupanya ini adalah salah satu tarian perang. Ketika kemudian tarian ini menunjukkan koreografi perang, Elsy dengan pakaian adatnya dan beberapa wanita bergabung. Elsy menenteng parang khas Flores Timur, menghentikan perang ini. Saya tidak tau, perang ini (di masa lampau) berhenti karena pesona wanitanya atau karena mereka takut dengan ancaman parang dari seorang perempuan?

Beberapa warga Lamawalang ini rupanya masih melestarikan beberapa kebudayaan daerahnya, beberapa tarian dan lagu daerah. Mereka mengundang saya nanti malam untuk mampir ke rumahnya untuk minum kopi. Jadi malamnya kami ke kampung mereka dan mereka sudah berkumpul, menyuguhi kami makanan dan kopi serta menghibur kami dengan beberapa lagu Flores yang sudah jarang terdengar dan saya tidak mengerti artinya. Tapi saya sangat menikmati petikan gitar, tabuhan kendang dan irama musik yang keluar dari mulut mereka. Laut malam kami pulang ke penginapan kami, esok hari kami masih akan berkeliling dengan Elsy.

Pagi-pagi sekali kami sudah menjemput Elsy dan kami di ajak ke Pasar Larantuka melihat hiruk pikuk di pasar tradisional ini. Biasanya di pasar kami akan menemui beberapa makanan daerah yang langka. Dari pasar kami kemudian mampir ke sebuah warung untuk melihat bagaimana masyarakat membuat jagung titi, sebuah makanan pengganti nasi. Jadi jagung kering ini dipisahkan dari luruh/loru (tongkolnya), kemudian disangrai dalam bejana tanah menggunakan api dari kayu bakar. Seteleh kering, langsung dikeluarkan dan ditaruh dalam batu pipih besar dan ditumbuk/dipukul dengan batu juga. Proses membuat jagung titi oleh para perempuan Lamaholot (sebutan untuk masyarakat Flores Timur) ini mirip dengan cara membua emping melinjo. Jagung titi ini bisanya dimakan dengan direndam dalam kuah ikan atau sayuran, atau dimakan sebagai cemilan. Perempuan tua yang membuat jagung titi ini bekerja sambil mendendangkan lagu daerah. Sementara di sampingnya Elsy menggoreng pisang untuk kami.

Selesai makan jagung titi dan pisang goreng, kami kemudian berpamitan dan segera ke Pelabuhan Larantuka untuk mengunjungi beberapa pulau dan spot diving di sekitar Pulau Solor dan Adonara. Beberapa spot diving disini, layaknya laut di Indonesia Timur mempunyai visibilitas yang bagus, dengan air laut yang jernih dan terumbu karang dan biota laut yang lengkap. Kami kembali ke Larantuka setelah magrib dan mampir ke beberapa Gereja dan melihat Patung Tuan Ma, sebuah patung Bunda Maria yang diarak tiap Paskah dalam upacara Semana Santa. Malamnya kami langsung ke Katedral untuk bertemu Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, pemimpin tertinggi umat Katolik di Keuskupan Larantuka.

Di Katedral kami diterima oleh seorang Pastur dan dipersilahkan menunggu di sebuah pendopo. Kami ditinggalkan di pendopo dengan beberapa gelas kopi dan kue-kue. Pastur yang mengantar kami meninggalkan kami di pendopo, menengok kami sekali lagi dan berjalan masuk ke gedung Pastoral. Kami saling pandang dan baru sadar, sejak pagi kami berpetualang di Larantuka, ke pasar, membuat jagung titi, dan menyelam di laut, dan kami menemui Pemimpin Tertinggi Umat Katolik ini dengan pakaian lusuh, beberapa bercelana pendek bau laut dan keringat. Kami berempat, saya Katolik, dua teman kami Muslim (satu memakai kopiah), dan satu teman lagi Hindu. Pater Kopong akhirnya menerima kami dengan ramah, menceritakan beberapa sejarah dan budaya Lamaholot, perayaan Semana Santa dan bagaimana kehidupan kerukunan beragama di Larantuka. Kami pulang ke hotel kami dengan damai, setelah semua mendapat berkat dari Bapa Uskup, termasuk ketiga teman kami yang lain.

Beberapa hari kemudian dari dalam mobil kami kembali menatap Ile Mandiri yang melindungi pemukiman Larantuka di bawahnya. Kemudian disambut Gunung Riang Kotang, Lereboleng, Lewetobi, Ilimuda dan Gunung Egon di samping kiri kami. Di kanan sepanjang jalan tadi laut membentang, jadi kami akan segera sampai di Fransiskus Xaverius Seda International Airport di Maumere. Kami kembali menumpang pesawat berbaling-baling sampai di Ngurah Rai, dan dari Ngurah Rai kami menuju ke Soekarno-Hatta. Beberapa minggu lagi mungkin saya akan ke Borneo untuk ikut beberapa teman-teman suku Dayak di pedalaman Kalimantan Barat, atau kembali ke Selat Malaka dan Laut China Selatan.

Sumber ; facebook.com/gunomerto.siswosoediro

By Pakdhul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *