Fatwa Dalam Madzhab Syafi’i tersebut dalam Kitab “Al Minhal”, kitab pokok dalam Madzhab
Syafi’i, yang dikarang oleh Imam Nawawi (wafat 667 H.), pada kitab shalat.

ويحرم بلحدث الحلاة والطواف وحمل المصحف ومس وَرَقِهِ وكذا جلده علا الصحىح .اھ

Artinya : “Dan haram hukumnya bagi orang berhadats mengerjakan
sembahyang, Thawaf, memegang Mashaf dan menyentuh lembara
kertasnya, begitu juga kulitnya, menurut fatwa yang sahih.
Tegasnya, kalau tidak berwudhu’ tidak boleh sembahyang, thawat
dan juga tidak boleh menyentuh Mashaf, baik lembaran kertasnya ata
kulitnya sekalipun.
Dan tersebut dalam Kitab “Al Muhadzab” kitab induk bagi Syarah
Muhadzab, karangan Imam Abu Ishaq as Syirazi (wafat tahun 476 H) ويحرم عليه مس المصحف لقوله تعلى لايمسه الا المطھرون .اھ
Artinya : “Dan haram hukumnya atas orang yang berhadats menyentuh Mashaf, karena Tuhan berfirman : Tidak boleh menyentuhnya kecuali orang yang suci”.
Fatwa ini tegas, tidak tedeng aling-aling, yaitu melarang orang yang tidak suci menyentuh atau membawa al Qurän suci.
Dan tersebut dalam Kitab “Fathul Mu’in”, karangan Allamah.
Syeikh Zainuddin al Malibari, yaitu kitab yang kemudian disyarah oleh Syeikh Sayid Abu Bakar Syatha dengan judul “T’anatut Thalibin”.
Tanatut Thalibin adalah kitab fiqih dalam Madzhab Syafi’i yang dipelajari dalam seluruh pesantren di Indonesia, begini bunyinya :
ور بالحديث صلا وطواف وجود وم مصحف وماكيب
لزبر آن ولو بص آي كنوچ اه
Artinya : “Dan haramlah hukumnya bagi orang yang berhadals
mengerjakan sembahyang, thawaf keliling Ka’bah, sujud tilawat,
membawa Mashaf dan membawa apa saja yang dituliskan Qurän di
atasnya, walaupun hanya sebahagian ayat, seperti yang tertulis di
atas papan pelajaran” (I’anatut Thalibin, Juzu’ 1, halaman 65).
Dari keterangan kitab Fathul Mu’in nampaklah bahwa larangan itu
sangat keras, sehingga benda apa saja yang bertuliskan ayat Qurän di
atasnya walaupun sepotong kertas.

Jadi sebaiknya, bagi seluruh guru-guru atau mu’allim-mu’allim
yang mengajarkan bacaan al Qurän supaya berwudhu’ lebih dahulu
demi menjaga kehormatan al Qurän dan supaya jangan kena hukum.
Demikianlah kami nukilkan sekedarnya isi Kitab-kitab Fiqih dalam
Mazhab Syafi’i, dengan catatan bahwa kitab-kitab Fiqih Syafi’i yang lain
seumpama Kitab “Fathul Wahab” karangan Imam Zakaria al Anshari,
“Igna” karangan Imam Syarbaini al Khatib dan lain-lain semuanya sepa-
kat memfatwakan bahwa untuk menyentuh, memegang dan membawa
Kitab suci al Qurän wajib berwudhu’, dan barangsiapa yang menyentuh,
memegang dan membawa Mashaf tanpa wudhu’ maka ia berdosa,
karena terkena hukum haram.
Dan sebagai yang dikatakan di atas, juga dalam Madzhab Hanafi,
Maliki dan Hanbali hukumnya haram memegang Qurän tanpa wudhu’.
Hikmah dari hukum ini ialah supaya kitab suci itu tetap dihormati
oleh manusia dari abad ke abad.

By Pakdhul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *