Tanggal 23 Juni 2013 seharusnya menjadi hari yang biasa di kampung Abu Musalam. Pada hari itu, seorang bernama Hasan Shehata sedang berkumpul bersama keluarga dan sahabatnya di rumah. ketika rakyat populer menyerbu. membakar bangunan tempat dia berada, dan memaksa Hassan Shehata keluar.

Ketika dia keluar, dia disiksa, dibunuh, dan mayatnya diseret ke jalanan. Alasan penyerangan orang ini, tidak lain dari agamanya yang menganut Shiah. Tidak hanya itu, dia juga dianggap memurtadkan banyak warga mesir menjadi Syiah. Dan bahkan, tidak bersalah sebagai agen Iran.

Memang. Iran dengan terbuka ingin menyulut Revolusi Islam di seluruh Timur Tengah, termasuk Mesir sejak 1979. Namun, Iran bukan satu-satunya negara yang ingin menyebarkan pengaruhnya. Arab Saudi pun memiliki keinginan yang sama, tapi dengan cara yang berbeda. 

Dan bagaimana Arab Saudi berhasil meluaskan pengaruhnya di Mesir. Pada tahun 1970-an, Kemiskinan dan penyebaran sosial di seluruh Mesir akibat kebijakan ekonomi Sadat. Namun, berbeda dari Mesir, tetangganya, yakni Arab Saudi, justru malah mengalami perkembangan pesat. Berkat kerjasamanya dengan Amerika Serikat, Arab Saudi dapat mengelola kekayaan minyaknya dan menginisiasi proyek-proyek pembangunan.

Ribuan warga Mesir pun menjadi pekerja di Arab Saudi. Kemiskinan dan penyebaran sosial di seluruh Mesir akibat kebijakan ekonomi Sadat. 

Di sinilah mereka terpana akan kekayaan kerajaan Arab Saudi. Kemegahan dua kota suci bagi umat Muslim, Mekka dan Medina, membuat mereka terkagum-kagum. Di sinilah mereka menerima bayaran yang jauh lebih tinggi dari Mesir. Dan tentunya ilmu agama Islam dan pemikiran Wahabi.

Bagi sebagian dari mereka, kesejahteraan di Arab Saudi adalah berkat dari kesalehan pemimpinnya. Dan apabila Mesir ingin maju, dia harus mencontoh Arab Saudi. Iran dan Arab Saudi kerap berselisih dalam menyebarkan pengaruhnya ke seluruh dunia.

Bagi keduanya, Mesir adalah sasaran empuk. Masyarakatnya sedang marah dan kecewa. Perekonomiannya? Kacau. Iran mendorong masyarakatnya memberontak pemerintah. Dan dorongan ini dimulai dengan pembunuhan Anwar Sadat. Namun, cara yang digunakan Iran gagal dalam mencapai tujuan.

Sebaliknya, Arab Saudi memiliki cara yang berbeda. Dia bahkan tidak perlu menyulut siapa pun. Banyak dari pekerja asal Mesir di Arab Saudi mulai kembali ke kampung halamannya. Di sana mereka membawa harta kekayaannya serta ilmu agama baru yang didapatkan di Arab Saudi.

Bagi Arab Saudi, merekalah yang akan menyebarkannya di Mesir. Elit-elit Arab Saudi juga mulai menggelontorkan kekayaannya dalam membangun lembaga keuangan syariah, penerbitan buku pro-Wahabisme dan lain-lain di Mesir. Konon, mereka juga membayar artis perempuan dan penari erotis agar “bertobat” dan mempromosikan gaya hidup baru mereka.

Masyarakat Mesir sebuah lelucon. “Seorang penari erotis akan menjadi kaya bila melayani lelaki Saudi… …Namun, bila ia ingin lebih kaya lagi, dan lelaki Saudi akan menafkahi dia.” Cara Arab Saudi memakan waktu yang lebih lama. Namun, semakin berhasil.

Awalnya, hanya gaya hidup yang berubah. Namun perlahan-lahan, Mesir menjadi lebih pro-Saudi. Dan tentunya, anti Iran dan Syiah. Konsep mengenai negara Islam pun semakin populer di Mesir karena negara sekuler dianggap gagal. dan lelaki Saudi akan menafkahi dia.

Meski jarang terekspos, modus ini diketahui oleh seorang intelektual sekuler, bernama Faraq Foda. Menurutnya, pengaruh Arab Saudi tidak akan berhenti hanya dalam gaya hidup semata. Namun, bila dibiarkan, Mesir bisa saja dijadikan seperti Arab Saudi, negara berdasarkan agama. Pada tanggal 8 Januari 1992, dia menghadiri debat dengan topik: “Apakah negara sipil Mesir, atau negara Agama?” Foda, bersama Mohammad Khalafallah dari sisi sekuler, melawan Mohammad al-Ghazali dan Ma’moun al-Hodeibi dari sisi pro agama.

Faraq Foda dengan cepat menjadi pusat perhatian. Menurutnya, negara Islam justru akan menodai kemurnian agama Islam, dengan intrik politik dan konflik kepentingan. Tak berhenti di situ, dia terus mengungkit sejarah kelam dari agamanya sendiri. Dia menyatakan di zaman Umayyah dan Abbasiyah, banyak khalifah yang bertindak semena-mena, hidup hedonis, perempuan utama, bahkan membunuh satu-sama lain.

Keberanian Farag Fouda dalam melontarkan kritik dan mengungkap sisi gelap politik Islam yang dianggap oleh kaum Islam fundamental sebagai sebuah konsep agama. Tentu, Foda tidak bermaksud menghina agamanya sendiri. Dia hanya berharap, agar masyarakat Mesir tidak termakan radikalisme agama. Namun pada 8 Juni 1992, dia dibunuh.

Bila peristiwa Sadat dianggap sebagai kejahatan politik, maka pembunuhan Foda adalah terorisme di Mesir. Ini bukan berarti Arab Saudi sudah menang. Atau Iran telah menyerah. Ini persaingan antara keduanya, hanya akan menjadi lebih sengit.

Mau pasang Gorden Custom   Klik

 

.

By Pakdhul

Leave a Reply

Your email address will not be published.